Efek Negatif Sering Melihat Foto Tubuh Langsing Di Media Sosial – KOMPAS.com

Efek Negatif Sering Melihat Foto Tubuh Langsing Di Media Sosial – KOMPAS.com - Hallo sahabat Informasi Terbaru, Pada sharing Info Terbaru kali ini yang berjudul Efek Negatif Sering Melihat Foto Tubuh Langsing Di Media Sosial – KOMPAS.com, saya telah menyiapkan informasi tekini di sekitar anda. Mudah-mudahan isi postingan Infoterbaru yang saya tulis ini menambah wawasan anda. okelah, cekidot informasi terbaru dari kami.

Judul Post : Efek Negatif Sering Melihat Foto Tubuh Langsing Di Media Sosial – KOMPAS.com

lihat juga


Efek Negatif Sering Melihat Foto Tubuh Langsing Di Media Sosial – KOMPAS.com

JAKARTA,  KOMPAS.com – Tak dapat dipungiri, media sosial bisa menjadi salah satu faktor yang memicu remaja mengalami gangguan makan, seperti anoreksia dan bulimia. Melihat foto teman atau figur publik terkenal yang memamerkan bentuk tubuh kurus atau langsing bisa membuat remaja ingin memiliki bentuk tubuh serupa.

Setelah mencapai tubuh yang ramping, remaja tersebut mungkin akan mengunggah foto terbarunya dengan tanda pagar #bodygoals di Instagram atau Twitter.

Fenomena itu banyak dialami pada remaja wanita. Paparan media sosial seperti itu bisa membuat remaja memilih cara instan dan tidak sehat untuk menurunkan berat badannya.

“Media sosial berpengaruh ketika ekspos media kencang banget tentang tubuh kurus, tubuh yang langsing,” ujar psikolog Tara Adhisti de Thouars dalam temu media di Jakarta, Jumat (24/2/2017).

Akibat obsesi memiliki tubuh yang kurus, mereka sering tidak mau makan selama berhari-hari hingga berbulan-bulan lamanya. Keinginan untuk tidak makan sangat drastis, misalnya hanya mau makan dua sendok per hari atau bahkan tak mau minum air karena takut gemuk. Kondisi itu merupakan gejala gangguan makan anoreksia.

“Temannya sudah bilang tubuhnya kurus tapi dia masih merasa gemuk. Kalau tulangnya belum kelihatan mereka juga masih merasa gemuk. Orang dengan anoreksia akan terus menurunkan berat badannya,” jelas Tara.

Adapula yang langsung memaksa memuntahkan makanan dari perutnya setiap habis makan. Perilaku tersebut dikenal dengan gangguan makan bulimia.

Meski demikian, media sosial bukan satu-satunya faktor yang memicu gangguan makan. Menurut Tara, penyebab gangguan makan adalah multifaktor. Faktor keluarga juga ikut mempengaruhi.

Misalnya jika seorang ibu sering mengeluh tubuhnya kegemukan, anak bisa menganggap gemuk itu jelek. Mereka pun lantas takut makan karena khawatir kegemukan dan tidak disukai teman-temannya.

Anak bukan berpikir soal sehat atau tidak sehat, tetapi soal penampilan yang jelek atau cantik.

Tara mengatakan, cara berpikir anak seperti itu bisa mulai terjadi pada anak usia SD. Selain itu, mereka biasanya juga memiliki kepribadian yang perfeksionis.

“Anak perfeksionis misalnya semua hal harus berjalan sesuai yang dia mau. Prestasi di sekolah biasanya bagus banget, jadi dia mau bagus di semua area, termasuk tubuhnya,” ungkap Tara.

Menurut Tara, orangtua sebaiknya tidak mengejek anak jelek ketika tubuhnya mulai gemuk. Orangtua seharusnya langsung memberi contoh nyata, misalnya dengan mengajak anak berolahraga dan mengajarkan anak pola makan bergizi seimbang.

Source link


Sumber: http://ift.tt/2laatrm


Demikianlah Artikel Efek Negatif Sering Melihat Foto Tubuh Langsing Di Media Sosial – KOMPAS.com

Sekian Informasi Terbaru dari kami Efek Negatif Sering Melihat Foto Tubuh Langsing Di Media Sosial – KOMPAS.com, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sekian postingan informasi terbaru kali ini.

Anda baru saja membaca artikel Efek Negatif Sering Melihat Foto Tubuh Langsing Di Media Sosial – KOMPAS.com dengan url permalinknya adalah http://dikut.blogspot.com/2017/02/efek-negatif-sering-melihat-foto-tubuh.html Semoga artikel ini bisa bermanfaat.