Penderita Kusta Capai 23% Di 2015, Jatim Canangkan Gerakan Jelita – Merdeka.com

Penderita Kusta Capai 23% Di 2015, Jatim Canangkan Gerakan Jelita – Merdeka.com - Hallo sahabat Informasi Terbaru, Pada sharing Info Terbaru kali ini yang berjudul Penderita Kusta Capai 23% Di 2015, Jatim Canangkan Gerakan Jelita – Merdeka.com, saya telah menyiapkan informasi tekini di sekitar anda. Mudah-mudahan isi postingan Infoterbaru yang saya tulis ini menambah wawasan anda. okelah, cekidot informasi terbaru dari kami.

Judul Post : Penderita Kusta Capai 23% Di 2015, Jatim Canangkan Gerakan Jelita – Merdeka.com

lihat juga


Penderita Kusta Capai 23% Di 2015, Jatim Canangkan Gerakan Jelita – Merdeka.com

Merdeka.com – Sepanjang tahun 2015, Jawa Timur menjadi provinsi dengan penderita kusta cukup tinggi di Indonesia, yaitu mencapai 23 persen. Dari jumlah itu, penduduk di Pulau Madura mendominasi penderita kusta di Jawa Timur, yaitu 35 persen.

Pemprov Jawa Timur mencanangkan Gerakan Jawa Timur Eliminasi Kusta (Jelita) 2017 sebagai cara untuk memerangi penyakit itu. Wakil Gubernur Saifullah Yusuf atau akrab disapa Gus Ipul, mengatakan, problem penyakit kusta di Jawa Timur harus segera dipecahkan. Apalagi, kata dia, penyakit ini ini sangat erat kaitannya dengan kesejahteraan umat manusia, yang berdampak pada status sosial dan ekonomi, serta berpengaruh langsung terhadap angka kemiskinan di Jawa Timur.

“Kita ingin semua prevalensi ratenya di bawah 1/10.000 penduduk. Sehingga dibutuhkan kerja keras dan dukungan dari semua pihak. Karena sebagian masyarakat masih menganggap kusta sebagai penyakit kutukan. Bahkan mengucilkan penderita kusta dan tidak memberikan kesempatan untuk berobat,” jelas Gus Ipul saat meluncurkan program tersebut di Madura, Rabu (15/3).

Dia menambahkan, penyakit kusta bukan penyakit kutukan. Bukan pula karena sihir, dan juga bukan penyakit keturunan. Penyakit kusta adalah penyakit disebabkan kuman seperti penyakit lainnya. “Oyapita jangan dijauhi karena untuk tertular perlu kontak dengan penderita yang belum diobati dan dalam waktu yang lama secara terus menerus,” imbaunya.

Gus Ipul menjelaskan, program pengendalian penyakit kusta melalui Gerakan Jelita 2017 ini dilakukan melalui strategi score dengan cara sosialisasi tentang penyakit kusta di masyarakat. Kemudian cari orang yang dicurigai mempunyai gejala kusta dengan melibatkan peran aktif masyarakat. Lalu obati sesuai dengan regimen WHO yang dapat diperoleh di Puskesmas. Selanjutnya rehabilitasi tentang orang yang pernah terinfeksi kusta (oyapita) membutuhkan penanganan lebih lanjut. Setelah itu evaluasi terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan untuk mengetahui tindak lanjut dari permasalahan yang ditemukan.

Oleh karena itulah, dia meminta masyarakat agar waspada terhadap gejala penyakit kusta dengan mengenali lima tanda di kulit; bercak merah, bercak putih, bercak tidak gatal, bercak tidak sakit, dan tidak sembuh dengan obat biasa. “Jika terdapat tanda-tanda seperti itu, imbau Gus Ipul, segera periksa ke Puskesmas terdekat secara gratis,” jelas dia.

Setelah pencanangan program itu, Gus Ipul menyempatkan diri berkunjung ke rumah M Zainal, salah satu warga yang tinggal Jalan Trunojoyo, Kabupaten Pamekasan, Madura, Rabu (15/3). Zainal merupakan warga di Pulau Garam yang pernah terinfeksi kusta (oyapita).

Pria 65 tahun tersebut tinggal sebatang kara di di rumahnya. Dia menderita penyakit kusta sejak 1980 silam, dan dinyatakan sembuh 100 persen oleh dokter pada 2016.

Selain Zainal, Gus Ipul juga berbincang dengan penderita oyapita bernama Sarifah. Seperti halnya Zainal, perempuan ini pernah menderita kusta yang diawali dengan bercak putih pada kulit dan mati rasa sejak usia 17 tahun. Sekarang, di usianya yang 19 tahun, Sarifah dinyatakan bebas penyakit kusta akibat dari pengobatan rutin yang diperolehnya secara gratis di Puskesmas Kowel Pamekasan.

“Luar biasa, Puskesmas Kowel telah memberikan pengobatan gratis kepada penderita kusta di Pamekesan. Puskesmas ini layak mendapatkan penghargaan terhadap pelayanan yang diberikan kepada masyarakat,” katanya.

Sementara Bupati Pamekasan, Achmad Syafii mengatakan, untuk mendukung program Jelita 2017 yang digagas Pemprov Jawa Timur ini, pihaknya juga mencanangkan Pamekasan Eliminasi Kusta (Pelita) dan telah disetujui oleh DPRD.

Syafii menargetkan, di 2019 mendatang, penyakit kusta di Pamekasan bisa teratasi dengan baik melalui Gerakan Pelita. Sehingga, program ini bisa memberikan harapan, sekaligus menurunkan jumlah penderita kusta di Pamekasan.

Masih di tempat sama, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Kohar Hari Santoso menjelaskan, selain dicanangkan Gerakan Jelita di Tahun 2017 ini, juga diberikan paket makanan tambahan kepada 500 sasaran yang terdiri dari ibu hamil, balita, anak sekolah, dan oyapita. Pemberian makanan tambahan tersebut berupa biskuit yang dirancang untuk perbaikan gizi masyarakat.

“Pemberian makanan tambahan ini bukan berarti menggantikan makanan utama sehari-hari, namun sebagai tambahan. Untuk kualitas makanan sehari-hari harus tetap diberikan. Diharapkan sebagai momentum untuk memberikan peningkatan gizi pada masyarakat,” katanya.

Penggunaan makanan tambahan tersebut yaitu; ibu hamil dengan usia kehamilan sampai tiga bulan sebanyak 2 keping per hari, ibu hamil dengan usia kehamilan di atas tiga bulan sebanyak 3 keping setiap hari, anak balita di atas usia satu tahun sebanyak 12 keping per hari, anak sekolah dasar sebanyak 6 keping per hari, dan untuk anak. [lia]

Source link


Sumber: http://ift.tt/2m1pssI


Demikianlah Artikel Penderita Kusta Capai 23% Di 2015, Jatim Canangkan Gerakan Jelita – Merdeka.com

Sekian Informasi Terbaru dari kami Penderita Kusta Capai 23% Di 2015, Jatim Canangkan Gerakan Jelita – Merdeka.com, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sekian postingan informasi terbaru kali ini.

Anda baru saja membaca artikel Penderita Kusta Capai 23% Di 2015, Jatim Canangkan Gerakan Jelita – Merdeka.com dengan url permalinknya adalah http://dikut.blogspot.com/2017/03/penderita-kusta-capai-23-di-2015-jatim.html Semoga artikel ini bisa bermanfaat.