Waspada, Obesitas Dan Kurang Gizi Teror Kota Besar! – Pikiran Rakyat

JAKARTA, (PR).- Obesitas menjadi penyakit tidak menular yang terus meneror penduduk kota metropolitan seperti Jakarta. Kemapanan finansial dan pendidikan tak menjamin warga yang tinggal di daerah metropolitan mampu menerapkan gaya hidup sehat. Penduduk kota besar juga masih kerap terserang kekurangan gizi.

Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan Dedi Kuswanda mengatakan, obesitas biasanya menyerang mereka yang tak memperhatikan pola makan sehat sehingga kelebihan nutrisi. Penduduk kota besar lebih suka mengkonsumsi makanan cepat saji ketimbang olahan tradisional. Dengan demikian, asupan nutrisi terhadap tubuh tak terkontrol.

“Dengan pola hidup yang tidak teratur seperti jarang olah raga, jarang mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan dapat mempercepat terserang obesitas dan kekurangan gizi,” kata Dedi. Ia menyatakan itu dalam Seminar Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) di Hotel Westin Jakarta, Kamis 27 April 2017. Menurut dia, dengan kesibukan kerja, warga metropolitan juga tak memiliki waktu untuk memeriksa kesehatan secara berkala. “Jadi jangan jauh ke pelosok, kekurangan gizi juga masih banyak di Jakarta.”

Ia mengatakan, obesitas dan kekurangan gizi berpengaruh pada produktivitas kerja manusia. Menurut dia, sejak dua tahun lalu, pemerintah semakin gencar menyosialiasikan pentingnya berperilaku hidup sehat. Keseriusan tersebut ditandai dengan keluarnya Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).

“Kami juga mengajak pihak swasta terutama pengusaha suplemen kesehatan untuk terus mengajak dan menumbuhkan kesadaran pada masyarakat untuk berperilaku hidup sehat,” katanya.

Obesitas dan pola hidup sehat

Dedi menegaskan, perilaku hidup tidak sehat masyarakat telah membawa dampak besar terhadap pertumbuhan sosial dan budaya nasional. Menurut dia, dalam 30 tahun terakhir, penyakit tidak menular menjadi penyebab utama kematian. Obesitas memicu warga Indonesia kerap terserang stroke, jantung dan kencing manis.

“Sebelum era 90-an, penyebab utama kematian adalah penyakit menular seperti TBC dan diare. Penduduk kota yang kerja seharian di kantor, duduk di depan komputer tanpa meluangkan waktu untuk olah raga, rawan terkena stroke dan jantung. Orang dengan obesitas rawan terkena penyakit itu,” katanya.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Suplemen Kesehatan Indonesia Patrick A. Kalona menyatakan, obesitas identik dengan penduduk kota besar. Menurut dia, berdasarkan studi ilmiah di beberapa kota besar dunia, olah raga teratur dan konsumsi buah yang cukup dapat menekan risiko obesitas dan kekurangan gizi.

“Germas ini perlu mendapat dukungan dari semua pihak. Kami dari pihak pengusaha mendukung penuh karena evolusi penyakit juga harus dihadapi dengan evolusi pola gaya hidup masyarakat,” katanya.

Dewan Pakar Ilmiah Internasional Alliance of Dietary Supplement Associations Andrew Shaw mengatakan, para pelaku industri nutrisi menyadari fenomena pergeseran pola hidup masyarakat yang mengakibatkan pergeseran penyakit tersebut. “Di semua negara maju, pemerintahnya telah menggeser fokus yang sebelumnya berurusan dengan penyakit menular, kini ke menekan penyakit tak menular,” ucapnya.***

Source link


Sumber: http://ift.tt/2oMBeUB